Latest Trend


img

 

Seorang pengusaha di Jogjakarta pergi ke Bangkok, Thailand untuk mengunjungi sebuah gerai bakery yang baru saja meluncurkan produknya. Sesampainya disana, dia cukup terkejut ketika melihat banyak orang mengantre panjang untuk mendapatkan produk terbaru gerai bakery tersebut. Dia memperhatikan bahwa hampir semua pengunjung keluar gerai dengan menenteng produk bakery tersebut.

Pengusaha ini turut mengantre dan membeli beberapa produk bakery tersebut dan membawa beberapa pulang. Sesampainya di Jogjakarta, pengusaha ini mengumpulkan para managernya dan menceritakan apa yang dia dapat selama berkunjung ke Bangkok. Ia membiarkan para staf andalannya ini mencicipi roti tersebut dengan tujuan ingin menciptakan produk yang mirip dan menjualnya di Indonesia.

Setelah para chef andalannya berhasil menciptakan produk yang diinginkan, pengusaha ini bertekad untuk segera menjual roti ini. Ia pun menyuruh para staf marketingnya untuk mengamati pasar. Ada yang mengamati cara penjualan roti, ada yang mempelajari pola pembelian konsumen, bahkan ada juga yang mencari tahu tren roti yang sedang muncul.

Setelah mendapat berbagai macam masukan dan inspirasi, akhirnya pengusaha ini memutuskan untuk mulai membuka usahanya dan menggunakan strategi ‘Panic Buying’ dalam menjual produknya. Pengusaha ini mengumpulkan seluruh rekan-rekannya, keluarga, dan relasinya untuk ramai-ramai mengantre di gerai nya. Hal ini mencuri perhatian masyarakat yang melihat ‘keramaian’ tersebut. Timbul rasa penasaran, akhirnya masyarakat juga ikut mengantre untuk mencicipi roti baru ciptaan pengusaha ini.

Antrean mengular hingga beberapa hari, nama toko bakery milik sang pengusaha semakin terkenal, dan roti hasil ciptaannya pun semakin digemari masyarakat. Si pengusaha ini berhasil menciptakan trend dan pasar nya sendiri.

Teknik pemasaran yang dilakukan oleh si pengusaha diatas sering kali disebut dengan gaya marketing “panic buying”. Teknik ini merupakan salah satu cara untuk membuat produk kita lebih cepat laku dan dikenal cepat oleh masyarakat. Gaya pemasaran ini cenderung membuat kehebohan sehingga dapat mencuri perhatian. Tujuan utamanya adalah agar produk yang diproduksi cepat laku dan mudah dikenal oleh masyarakat.

Namun hal yang harus diperhatikan bahwa efek yang ditimbulkan oleh teknik “panic buying” hanya bersifat sementara. Gaya pemasaran ini menimbulkan efek kehebohan yang besar di awal namun tidak berlangsung lama. Maka dari itu penting bagi para pengusaha untuk terus memikirkan strategi selanjutnya ketika efek “panic buying” sudah mulai habis.

“Panic buying” bagus digunakan untuk menimbulkan awareness terhadap masyarakat. Kehebohan yang diciptakan akan berdampak tingginya awareness masyarakat terhadap produk atau brand kita. Hal ini tentu harus disikapi lebih lanjut agar masyarakat yang sudah mengenal brand kita akan terus menjadi pelanggan setia meskipun efek “panic buying” sudah mereda. Konsisten, mempertahankan kualitas, dan inovatif merupakan langkah-langkah yang harus dilakukan agar produk kita terus digemari masyarakat.

artikel terkait

Komentar (0)
Belum terdapat komentar pada halaman ini.